Posted by: cahyopa | October 17, 2009

Kearifan Emas

Seorang pemuda mendatangi Zun-Nun dan bertanya, “Guru, saya tak mengerti mengapa orang
seperti Anda mesti berpakaian apa adanya, amat sangat sederhana. Bukankah di masa
seperti ini berpakaian sebaik-baiknya amat diperlukan, bukan hanya untuk penampilan
melainkan juga untuk banyak tujuan lain?”

Sang guru hanya tersenyum. Ia lalu melepaskan cincin dari salah satu jarinya lalu
berkata, “Sobat muda, akan kujawab pertanyaanmu, tetapi terlebih dahulu lakukan satu hal
untukku. Ambillah cincin ini dan bawalah ke pasar di seberang sana. Bisakah kamu
menjualnya seharga satu keping emas?”

Melihat cincin Zun-Nun yang kotor, pemuda tadi merasa ragu. “Satu keping emas? Saya
tidak yakin cincin ini bisa dijual seharga itu.”

“Cobalah dulu, sobat muda. Siapa tahu kamu berhasil.”

Pemuda itu pun bergegas ke pasar. Ia menawarkan cincin itu kepada pedagang kain,
pedagang sayur, penjual daging dan ikan, serta kepada yang lainnya. Ternyata, tak
seorang pun berani membeli seharga satu keping emas. Mereka menawarnya hanya satu keping
perak. Tentu saja pemuda itu tak berani menjualnya dengan harga satu keping perak. Ia
kembali ke padepokan Zun-Nun dan melapor, “Guru, tak seorang pun berani menawar lebih
dari satu keping perak.”

Zun-Nun sambil tetap tersenyum arif berkata, “Sekarang pergilah kamu ke toko emas di
belakang jalan ini. Coba perlihatkan kepada pemilik toko atau tukang emas di sana.
Jangan buka harga, dengarkan saja bagaimana ia memberikan penilaian.”

Pemuda itu bergegas pergi ke toko emas yang dimaksud. Ia kembali kepada Zun-Nun dengan
raut wajah yang lain. Ia kemudian melapor, “Guru, ternyata para pedagang di pasar tidak
tahu nilai sesungguhnya dari cincin ini. Pedagang emas menawarnya dengan harga seribu
keping emas. Rupanya nilai cincin ini seribu kali lebih tinggi daripada yang ditawar
oleh para pedagang di pasar.”

Zun-Nun tersenyum simpul sambil berujar lirih, “Itulah jawaban atas pertanyaanmu tadi
sobat muda. Seseorang tak bisa dinilai dari pakaiannya. Hanya ‘para pedagang sayur, ikan
dan daging di pasar’ yang menilai demikian. Namun tidak bagi ‘pedagang emas’.”

“Emas dan permata yang ada dalam diri seseorang, hanya bisa dilihat dan dinilai jika
kita mampu melihat ke kedalaman jiwa. Diperlukan kearifan untuk menjenguknya. Dan itu
butuh proses, wahai sobat mudaku. Kita tak bisa menilainya hanya dengan tutur kata dan
sikap yang kita dengar dan lihat sekilas. Seringkali yang disangka emas ternyata loyang
dan yang kita lihat sebagai loyang ternyata emas.”


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: