Posted by: cahyopa | August 24, 2009

Yesus dan Penjaga Pintu (Fiksi)

Sebuah Renungan

Yesus dan Penjaga Pintu

Disadur dari suatu Epoch Time edisi 111

Di Eropa ada suatu Gereja yang terkenal karena memiliki pemandangan indah dan kegaiban patung Yesusnya. Patung itu dibuat seukuran dengan ukuran tubuh manusia. Selain untuk misa, banyak umat yang datang khusus untuk berdoa di depan patung Yesus di Gereja tersebut. Hal ini karena banyak umat yang mengalami mukjizat setelah berdoa ditempat tersebut.
Di dalam Gereja ada seorang penjaga pintu. Penjaga pintu itu selalu melihat Yesus yang susah payah dan tetap setia mendengarkan doa-doa dari begitu banyak. Ia berharap dan bercita-cita suatu saat bisa membantu Yesus mendengarkan doa-doa orang-orang yang memohon kepada-Nya.
Suatu hari, penjaga itu berdoa dengan tulus dan mennyatakan niatnya kepada Yesus. Tak dinyana, tiba-tiba terdengar suara, “Baiklah! Saya akan turun dan menggantikan tugasmu sebagai penjaga pintu. Engkau akan menggantikan Aku sebagai patung disini.” lalu Yesus berkata lagi, ”Namun satu syarat yang harus kamu patuhi, yakni kamu tidak boleh memperdulikan apa yang kamu lihat dan kamu dengar. Sepatah katapun kamu tidak boleh berbicara dengan mereka.”. Lalu berubahlah Yesus menjadi penjaga pintu dan penjaga pintu menjadi patung Yesus.
Beberapa saat setelah kejadian itu banyak umat yang datang silih berganti untuk berdoa. Penjaga pintu mendengarkan dengan seksama orang-orang yang berdoa. Ada permintaan yang masuk akal, namun banyak juga permintaan yang tidak masuk akal. Hari demi hari terlewati, namun sesuai janji dan komitmennya ia tetap diam, meskipun sebagai patung, namun Yesus memberikan kemampuan untuk berbicara.
Suatu hari, datang seorang pedagang kaya untuk berdoa. Ditangannya ia menenteng sebuah tas penuh uang . Setelah selesai berdoa ia pergi dari Gereja itu dan lupa membawa tas yang tadi ia bawa.
Beberapa saat kemudian datang seorang yang sangat miskin. Orang itu serba kekurangan dalam hidupnya. Untuk makan 2 kali sehari saja ia sangat kesulitan. Ia berdoa di depan patung agar Yesus membantunya agar dapat melewati kesulitan-kesulitan hidup yang ia alami. Setelah selesai berdoa ia melihat tas milik pedagang yang tadi ketinggalan. Sesaat setelah dibuka orang itu kaget, karena menemukan uang dalam jumlah yang banyak. Kemudian ia bergembira dan berpikir bahwa doanya telah dikabulkan. Ia pun kembali berdoa untuk bersyukur. Kemudian dengan menenteng tas yang penuh uang ia pergi dari Gereja itu dengan hati yang riang.
Si penjaga yang masih berwujud patung menjadi cemas melihat kejadian itu. Ia hendak memberi tahu orang miskin itu, bahwa uang itu bukan uang yang diberikan kepadanya. Namun, ia teringat pada komitmennya untuk diam dan tidak memperdulikan kejadian yang ia lihat dan ketahui.
Kira-kira 10 menit sejak kemudian, datang seorang pemuda yang hendak pergi untuk berlayar. Ia memohon kepada Yesus agar diberikan rejeki dan keselamatan dalam pelayarannya. Ketika anak muda itu selesai berdoa dan hendak pergi tiba-tiba datanglah si pedagang yang tasnya ketinggalan tadi. Karena tidak menumukan tasnya, ia menarik kerah baju pemuda itu dan menuduh sebagai pencuri.
Si pemuda yang tidak mengetahui apa yang terjadi, tidak tinggal diam dan memberikan perlawanan. Akhirnya terjadi keributan antara pedagang dan pemuda di dalam Gereja itu. Pada saat itu penjaga pintu tidak kuasa untuk menahan diri, lantas ia membuka mulutnya. Ia melupakan komitmen dan janjinya untuk diam dan tidak memperdulikan kejadian disekitarnya. Dalam rupa patung, penjaga pintu berbicara panjang lebar mengenai kejadian yang dilihatnya. Orang kaya itu pun lantas pergi mencari orang miskin, sesuai ciri-ciri yang diberikan. Sedangkan pemuda itu pergi dengan tergesa-gesa karena waktu keberangkatan kapal hanya beberapa puluh menit lagi.
Beberapa saat kemudian Yesus asli menampakkan diri dan menunjuk ke arah penjaga pintu. ”Hai penjaga pintu, tugasmu sebagai patung sudah selesai.” Lalu berubahlah penjaga pintu menjadi bentuk aslinya. Kemudian Yesus berkata, ”Kamu tidak layak menggantikan tugas-Ku.”
Penjaga pintu kemudian membela diri, ” Saya menjelaskan fakta yang benar dan menegakkan keadilan bagi semua pihak. Apakah itu keliru ?”
Yesus kemudian berkata, ”Sebenarnya kamu tidak memahami apapun! Pedagang kaya itu tidak kekurangan uang meskipun uang itu hilang, uang yang hilang itu hanya hendak ia pakai untuk bersenang-senang bersama pelacur, dan setelah bersenang-senang ia akan terjangkit virus HIV. Akan tetapi bagi orang yang miskin tadi, uang tersebut bisa menyelamatkan hidup keluarganya yang tengah kelaparan dan beberapa anggota keluarganya sedang sakit. Yang paling tragis adalah pemuda itu, andaikan tadi terus terjadi keributan dengan pedagang kaya itu, tentu saja ia akan ketinggalan kapal yang akan ditumpanginya. Akan tetepi sekarang ia telah tewas karena kapal yang ia tumpangi sudah tenggelam di dasar lautan.”
Ada suatu prinsip di dalam dunia nyata, yang mungkin di mata Tuhan tidaklah sama. Baik atau buruknya suatu hal di mata Tuhan, terkadang berbeda dengan hal yang bisa kita lihat dari kebenaran manusiawi kita. Kita mungkin hanya sedikit memahami cara Ia bekerja, namun kadang kita selalu memandang karya-Nya dari sudut pandang manusiawi kita. Dan kadang kita selalu mempersalahkan Tuhan karena kekurangan kita atau keburukan sesorang.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: