Posted by: cahyopa | August 12, 2009

Saat engkau cemberut…

Saat engkau cemberut, engkau telah membungkus senyuman ramahmu untuk sahabat dan saudaramu! Padahal Tuhan menaruh harapan, melalui dirimu, saudaramu yang sedih akan merasa nyaman tinggal di hatimu! Saat engkau muram dan memalingkan wajahmu kepada orang yang berada dalam kesulitan hidupnya, engkau sebenarnya telah menyembunyikan cinta Tuhan yang engkau percayakan kepadamu. Padahal kehadiranmu diharapkan menjadi tanda cinta-Nya yang membawa harapan. Saat engkau mencari harga dirimu dan takut wibawamu merosot turun, engkau sebenarnya telah membungkus kesempatan untuk tumbuh dan berkembang. Padahal Tuhan mau menganugerahkan rahmat kebijaksanaan: menjadi mulia dalam kerendahan hati, namun engkau tidak mau untuk terluka sebentar saja. Saat engkau membuang muka kepada temanmu yang telah menjengkelkan dirimu, engkau telah membungkus rapat hatimu yang penuh belas kasih dan pengampunan. Padahal Tuhan sudah memberikan kepadamu mandat untuk mengampuni, yakni tidak menghakiminya lagi, melainkan justru memberikan kesempatan kepadanya untuk berubah. Begitu besar cinta Tuhan, sampai pengampunan pun dipercayakan kepada manusia, agar manusia dengan mudah memaafkan sesamanya! Saat engkau menolak anakmu untuk bersandar pada bahumu, saat itulah juga engkau kehilangan kesempatan untuk merasakan tangisan, detak jantung anakmu yang mempercayakan hidupnya kepadamu. Begitulah anakmu percaya kepadamu, orang tuanya. Anakmu yakin engkau tidak akan menyakiti hatinya, melukai tubuhnya, melainkan anakmu percaya, engkau orangtuanya akan mendidik dan merawatnya penuh kasih! Tuhan pun percaya dan menaruh harapan kepadamu sebagai orang tua. Saat engkau menyalahgunakan kehendak bebasmu untuk berbuat dosa, di situlah sebenarnya rahmat belas kasih Tuhan yang maharahim berlimpah limpah. Namun rahmat itu tidak akan dirasakan kalau kita masih “hidup”: membela diri terus dengan 1001 alasan yang membenarkan diri sendiri meskipun sudah ditunjukkan kesalahanmu. Kita butuh belajar “mati”: kehilangan harga diri, agar kita mampu menemukan rahmat Tuhan yang berbelas kasih kepada orang berdosa. Itulah ibarat, ikan yang hidup di tengah lautan tidak akan menjadi asin meski air lautnya asin.Namun hanya ikan mati yang dapat diasini karena fungsi “self defense mecanism” ikan itu sudah tidak berjalan lagi. Begitulah diri kita sebenarnya. “Kamu adalah garam dunia”. Mungkinkah kita akan menjadi garam bila kita tidak “mati”? Kita akan menjadi garam kalau berani kehilangan “sikap membela diri”. Tanah yang subur, mudah dicangkul dan menyerap air apa saja. Tanah itu selalu siap untuk ditanam “biji-bijian” yang menjadi benih tanaman untuk bertunas. Apakah kita ini siap menjadi biji gandum, biji rambutan, biji padi, yang siap ditanam? Tanah itu bisa jadi hidup kita bersama, ada yang tandus, ada yang subur, ada yang dikelilingi semak berduri, atau seperti tanah di atas bebatuan, atau seperti tanah di pinggir jalan? Terhadap orang lain, kita dipanggil menjadi tanah yang subur agar sahabatku, bagaikan biji padi, siap bertunas, tumbuh dan berbuahkan bulir padi yang bermutu. Bagi diri sendiri, kita dipanggil untuk menjadi “biji” yang siap mati untuk ditanam, di manapun kita akan hidup. Tuhanlah yang memberi hidup dan pertumbuhan kepada biji itu…dan kitalah yang dipanggil saling merawat dan memupuk tanah kehidupan bersama. Semoga hari esok ada banyak kejutan yang membuat hidupmu menjadi tanah yang subur bagi banyak orang! Semoga kita mau menjadi biji padi yang jatuh ke tanah dan mati, agar berlimpah buah padinya saat panen nanti.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: