Posted by: cahyopa | July 7, 2009

Taman di Dalam Diri

Taman di Dalam Diri

Noge, seorang remaja dari sebuah dusun di pedalaman Irian sana suatu
ketika diajak oleh pamannya untuk jalan-jalan ke kota Jakarta . Sang
paman yang seorang pengusaha sukses di ibukota itu kemudian membawa
Si Noge berkeliling kota . Seperti rusa masuk kampung, Noge begitu
tertegun melihat gemerlapnya kota metropolitan itu. Ia berdecak kagum
menyaksikan gedung-gedung pencakar lagi di Jalan Thamrin, Sudirman
dan Gatot Subroto. Ia membayangkan betapa enaknya hidup di kota yang
semuanya serba “wah” dibandingkan di desanya yang listrik saja belum
terpasang.

Oleh sang paman, Noge kemudian diajak makan siang di sebuah restoran
eropa terkenal. Saat sang paman sibuk memilih menu makan siangnya, Si
Noge hanya terdiam sambil memelototi menu tersebut. Ia merasa sangat
asing karena belum pernah mengenal makanan-makanan dalam menu
tersebut. Maklum anak kampung! Meski telah dipersilakan untuk memilih
sendiri, Si Noge tetap saja bingung. Semula ia ingin menanyakan
kepada sang paman aneka makanan dalam menu tersebut. Namun niat itu
diurungkanya mengingat restoran tersebut sangat ramai siang itu.
Lagipula ia merasa malu dan gengsi kalau sampai ketahuan ia dari
dusun.

Akhirnya Noge memutuskan untuk memilih masakan yang serupa dengan
yang dipesan oleh sang paman. Misalnya ketika sang paman minta
tenderloin steak, ia pun langsung angkat suara, “Saya juga tenderloin
steak.” Ketika sang paman mengatakan, “Well done”, Noge pun
mengikutinya dengan sempurna, “Well done.” Tak ada yang tahu kalau Si
Noge tak sedikit pun memahami apa yang diucapkannya. Ketika makanan
disajikan di meja, Si Noge pun menunggu apa yang akan dilakukan sang
paman. Ketika sang paman memegang pisau, ia pun ikut memegang pisau.
Ketika sang paman memegang garpu, ia pun ikut mengangkat garpu. Siang
itu, Si Noge betul-betul menjadi hasil fotokopi yang sempurna alias
seindah aslinya (baca: sang paman).

Setelah menikmati menu penutup, sang paman kemudian mengambil tisu
dan tusuk gigi lalu membersihkan sisa makanan yang masih terselip di
gigi-giginya. Sayangnya Si Noge tak bisa melihat jelas apa yang
sedang dilakukan sang paman karena mulut sang paman tertutup tisu.
Namun ia pun enggan untuk bertanya. Ia tetap mengikuti gerakan sang
paman. Usai membereskan tagihan, keduanya pun keluar dari restoran
tersebut. Sang paman lalu bertanya, “Noge, bagaimana makan siang
kita? Apakah kamu kenyang dan bisa menikmatinya? ” Dengan tersenyum
Noge menjawab, “Luar biasa, paman! Semua makanan enak-enak dan saya
suka. Cuma menu yang terakhir itu saya kurang suka. Kenapa keras dan
pahit-pahit seperti rasa kayu?” Oh, oh… rupanya Si Noge memakan tusuk
gigi yang dianggapnya sebagai menu terakhir. Sang paman pun hanya
bisa tersenyum melihat ulah keponakannya itu.

Apa hikmah yang bisa kita petik dari cerita di atas? Sadar atau
tidak, dalam hidup ini kita cenderung ingin menjadi orang lain. Kita
sering meniru habis-habisan apa yang dilakukan oleh tokoh idola kita.
Kita ingin menjadi seperti mereka. Saya pun pernah mengalami hal
tersebut yang akhirnya membuat saya sadar kalau saya tidak akan
pernah mencapai potensi maksimal saya jika mencoba menjadi orang
lain.

Setiap manusia unik adanya. Ada kelebihan dan kekurangan. Jika kita
mencoba menjadi orang lain, keunikan kita akan hilang. Kita hanya
akan menjadi sebuah barang imitasi yang buruk! Kita akan kehilangan
jati diri kita. Saya tidak sedang mengajak Anda untuk memusuhi orang
lain. Sama sekali tidak! Seberapa pun hebatnya orang itu, kita
hendaknya menempatkan orang tersebut hanya sebagai tokoh panutan
untuk memotivasi kita bergerak maju tetapi kita tetap harus bertumbuh
menjadi diri kita sendiri. Terlalu sayang kalau keunikan yang
diberikan Tuhan kita sia-siakan begitu saja hanya karena terlalu
mengidolakan seseorang secara berlebihan. Oleh karena itu, ambillah
waktu untuk memeriksa diri kita. Apa saja keunikan diri kita? Apa
kelebihan yang kita miliki yang tidak dimiliki orang lain? Apa saja
ketrampilan dan keunggulan saya dibandingkan orang lain? Temukan itu
dan kembangkan.

Mungkin Anda masih ingat lagu Hero yang dilantukan oleh Mariah Carey.
Lagu yang sangat memotivasi itu jelas-jelas menyatakan ada seorang
pahlawan yang sedang bersembunyi dalam diri kita. There’s a hero when
you look inside your heart! Memang terkadang diperlukan waktu yang
cukup lama untuk bisa menemukan sang pahlawan itu. Namun percayalah
jika Anda bisa menemukannya, perjalanan sukses Anda akan terasa lebih
bermakna dan indah. Hati Anda pun akan bernyanyi riang, penuh
sukacita.

Injinkanlah saya menceritakan langkah-langkah yang telah saya tempuh
untuk bisa menemukannya. Pertama melalui dialog intensif dengan diri
sendiri. Saya mencoba berdamai dengan diri sendiri dan minta maaf
kepada diri sendiri karena selama ini telah mengabaikan potensi
tersebut. Kedua, sembari melakukan proses ini saya pun memperkuat
hubungan komunikasi saya dengan-Nya. Ketiga, saya berdiskusi dengan
orang-orang terdekat saya yang mencintai saya tanpa syarat. Mereka
mengasihi saya dan berharap saya bisa bertumbuh sesuai dengan talenta
yang diberikan Tuhan.

Lewat proses ini saya kemudian menemukan kelebihan dan kekurangan
saya. Saya makin bisa menerima diri ini dan mencintainya sepenuh
hati. Ken Blanchard pernah berujar, “People who feel good about
themselves produce good results.” Ya, orang-orang yang merasa OK
dengan dirinya akan menghasilkan hal-hal baik. Ingat, orang yang
tidak bisa mencintai dirinya cenderung sulit untuk bisa mencintai
orang lain. Saya pun berkomitmen untuk mengembangkan kelebihan saya.
Kalau Anda memulai perjalanan sukses dengan potensi yang telah Anda
miliki, Anda akan lebih mudah menggapai impian Anda dibandingkan
berusaha mencari sesuatu di luar sana. Rumput tetangga (tidak) selalu
lebih hijau!

Saya pun teringat sebuah cerita tentang jendral terbesar yang ditulis
oleh Mark Twain. Konon, suatu ketika ada seorang pria meninggal dan
bertemu dengan penjaga pintu surga. Menyadari sang penjaga pintu
surga pastilah orang yang bijaksana dan berpengetahuan luas, si pria
ini mulai bertanya, “Bapak penjaga pintu surga yang saya hormati,
saya selalu tertarik dengan sejarah militer selama bertahun-tahun.
Bisakah bapak katakan kepada saya, siapa jenderal terbesar sepanjang
masa?” Sang penjaga pintu surga menanggapinya dengan segera. “Oh itu
pertanyaan mudah. Orang yang kau maksud itu ada di sana,” kata sang
penjaga pintu surga sambil menunjuk ke arah seorang pria lainnya di
pojok. “Bapak, engkau pasti keliru. Aku mengenal orang itu di dunia
dan ia cuma pegawai rendahan biasa,” kata pria yang masih penasaran
itu. Penjaga pintu surga pun menjelaskan, “Benar katamu bahwa ia cuma
pegawai rendahan biasa. Tetapi ia sebetulnya bisa menjadi jenderal
terbesar sepanjang masa kalau saja ia menjadi jenderal.”

Akhirnya, saya ingin kita semua sadar kalau hari ini adalah hari
pertama dari sisa kehidupan kita di muka bumi ini. Buatlah itu
berarti. Daripada sibuk memandangi rumput di halaman tetangga, lebih
baik Anda mencari “taman” di dalam diri Anda, mengolahnya dengan
serius, mengembangkannya sehingga suatu saat ia akan
menghasilkan “buah” berlimpah.

Sumber: Taman di Dalam Diri oleh oleh Paulus Winarto. Paulus Winarto
adalah pemegang dua Rekor Indonesia dari MURI (Museum Rekor
Indonesia), yakni sebagai pembicara seminar pertama yang berbicara
dalam seminar di angkasa dan penulis buku yang pertama kali bukunya
diluncurkan di angkasa.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: