Posted by: cahyopa | July 7, 2009

Leaving A Legacy

Leaving A Legacy

by Arvan Pradiansyah

Tiga orang tukang batu nampak begitu sibuk. Mereka semua sedang menyusun
batu bata ketika seseorang datang mendekati mereka dan menanyakan apa yang
sedang mereka kerjakan. Tukang batu pertama yang dari tadi nampak mengomel
menjawab dengan kesal, Apa kamu tak lihat, saya sedang sibuk enyusun batu
bata Tukang batu kedua berdesah, Saya sedang mencari nafkah untuk hidup.
Anehnya tukang batu ketiga justru bersiul-siul. Wajahnya pun nampak
berseri-seri. Saya sedang membangun mesjid (atau katedral), katanya.

Cerita sederhana mengenai tukang batu di atas sebenarnya dapat juga mewakili
apa yang terjadi di tempat kerja. Ada karyawan yang setiap hari tak pernah
berhenti mengeluh. Ia merasakan pekerjaannya sebagai sesuatu yang rutin dan
membosankan. Orang ini gagal menemukan makna dibalik pekerjaannya. Orang
kedua sudah mulai dapat melihat makna pekerjaannya, tetapi semuanya itu
hanya untuk memenuhi kebutuhannya sekarang ini. Orang ketiga begitu
bersemangat karena ia merasakan makna pekerjaannya yang jauh lebih besar
dari sekedar kegiatan fisiknya. Ia sadar bahwa hasil pekerjaannya bukanlah
sekedar untuk dinikmati di masa sekarang, tetapi untuk masa-masa mendatang,
bahkan setelah ia meninggalkan dunia yang fana ini. Inilah yang disebut
leaving a legacy (meninggalkan warisan).

Leaving a Legacy merupakan kebutuhan manusia yang tertinggi setelah
kebutuhan fisik (to live), kebutuhan sosial emosional (to love) dan
kebutuhan mental (to learn). Inilah kebutuhan untuk menemukan makna di balik
apa yang kita lakukan sekarang. Lihatlah pekerjaan Anda. Apa maknanya bagi
Anda? Kalau yang Anda cari hanyalah aspek fisiknya yaitu sekedar mencari
nafkah, berarti Anda baru ada di tingkat pertama yaitu : to live.

Namun banyak juga orang yang bekerja bukan semata-mata karena uang, tetapi
karena membutuhkan lingkungan bergaul dan bersosialisasi. Kalau itu yang
terjadi pada Anda, Anda sudah berada di tingkat kedua yaitu : to love.

Bagi Anda yang tergolong high achiever, pekerjaan yang baik bukanlah yang
sekedar memberikan penghasilan dan sosialisasi yang memadai. Pekerjaan
tersebut juga harus memberikan tantangan dan kesempatan untuk terus belajar.
Menurut Herzberg, penghasilan yang memadai dan lingkungan kerja yang
menyenangkan saja belum akan mendatangkan kepuasan kerja (job satisfaction) .
Kedua hal tersebut hanya akan menghindarkan Anda dari ketidakpuasan kerja
(job dissatisfaction) . Anda tak akan mendapatkan kepuasan kerja bila Anda
hanya melakukan sesuatu yang rutin dan mudah. Anda membutuhkan tantangan
karena hanya dengan tantangan inilah Anda dapat terus maju dan berkembang.
Inilah tingkatan ketiga yaitu : to learn.

Tingkatan yang keempat yaitu to leave a legacy (meninggalkan warisan) berada
di atas itu semua. Anda bekerja karena pekerjaan Anda tersebut memberikan
sumbangan (kontribusi) kepada orang lain. Anda menjual barang dan jasa
karena hal itu dapat meningkatkan kualitas hidup orang lain: membuat mereka
menjadi lebih baik, lebih produktif, lebih sukses, lebih bahagia, lebih maju
dan seterusnya. Apapun yang Anda lakukan senantiasa dimaknai dalam konteks
membantu orang lain untuk sukses.

Tingkatan keempat inilah yang akan begitu menggairahkan kita untuk bekerja.
Inilah yang akan memberikan kepuasan kerja yang tak ada taranya. Inilah yang
akan membuat keberadaan Anda di dunia ini jauh lebih lama melebihi usia yang
mungkin diberikan Tuhan kepada Anda. Inilah tabungan-tabungan kebaikan yang
akan terus mengalir kepada Anda sekalipun Anda telah meninggalkan dunia yang
fana ini.

Lantas, pekerjaan macam apa yang dapat membuat Anda mencapai tingkatan
keempat ini? Jawabnya, semua jenis pekerjaan yang baik, asalkan dilakukan
dengan tulus dan ikhlas. Pekerjaan tersebut memang masih tetap sama secara
fisik, tetapi dengan niat yang tulus makna pekerjaan ini sekarang telah jauh
melampaui bentuk fisiknya. Sebuah pekerjaan sederhana seperti tukang sapu
memang hanya bermakna fisik bila dilakukan sekedar untuk memidahkan sampah
dari satu tempat ke tempat lain, tetapi pekerjaan itu akan bermakna
spiritual kalau diniatkan untuk menciptakan suasana kerja yang bersih yang
menimbulkan semangat dan kegairahan semua orang untuk mencapai
produktivitas.

Seorang pengarang Lord Hallifax pernah mengatakan, A Service is the rent
that we pay for our room on earth. Pelayanan adalah harga yang harus kita
bayar untuk tempat kita di bumi. Ada cerita menarik mengenai seorang kakek
yang sudah tua dan renta yang sedang menanam pohon mangga. Melihat hal itu
tetangganya keheranan dan bertanya, Apakah Bapak berharap dapat makan buah
mangga dari pohon ini?

Si kakek menjawab, Memang tak mungkin, mengingat umurku sekarang ini. Tapi
saya telah menikmati banyak buah mangga yang ditanam orang lain. Saya hanya
mencoba untuk membalas budi dengan memberikan sesuatu kepada generasi yang
akan datang.

Ada banyak pekerjaan yang memberikan manfaat kepada orang lain melebihi umur
kita sendiri bahkan melampaui kendala ruang dan waktu. Seorang penemu
listrik misalnya, telah membawa kesejahteraan bagi umat manusia sedunia
sampai sekarang ini dan di masa depan. Seorang penemu roda telah memudahkan
hidup begitu banyak manusia. Semua penemu benda-benda yang telah memudahkan
hidup manusia ini masih terus memberikan manfaat kepada dunia sekalipun
mereka telah lama tiada.

Para ilmuwan, para guru, para penulis buku, mereka punya peluang untuk hidup
lebih lama daripada usia mereka sendiri. Selama masih ada orang yang
mengamalkan ilmu mereka yang mungkin dapat diwariskan dari generasi
kegenerasi, selama masih ada orang yang menjadi lebih baik, lebih sabar dan
lebih arif karena membaca karya-karya mereka, selama itu pula
tabungan-tabungan kebaikan itu akan mengalir kepada mereka.

Begitu juga seorang seniman, musisi, penyanyi, pemain drama, dan lain-lain.
Kalau mereka dapat menciptakan musik-musik yang menggugah orang untuk
melakukan kebaikan, menghibur orang ke arah yang positif, mengingatkan orang
akan Tuhan dan sebagainya, mereka akan terus mendapatkan deposito kebaikan
yang melampaui ruang dan waktu. Seorang ibu yang sederhanapun dapat
memberikan sumbangan yang tak ternilai kepada dunia berupa putra-putri yang
baik yang selalu mengajak orang untuk berbuat kebaikan, dan pada saatnya
nanti akan melahirkan generasi penerus yang baik. Tabungan kebaikan si ibu
ini akan terus mengalir dari generasi ke generasi melampaui kendala ruang
dan waktu.

Kualitas kita bukanlah ditentukan oleh lamanya kita hidup, bukan pula oleh
pangkat dan posisi kita, tetapi oleh manfaat yang kita berikan kepada dunia.
Orang yang terbaik adalah orang yang paling banyak memberikan manfaat kepada
orang lain. The Best of You is The Most Advantageous One. Inilah kriteria
orang yang sukses. Ukuran kesuksesan bukanlah ketika kita hidup, melainkan
ketika kita telah meninggalkan dunia yang fana ini.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: