Posted by: cahyopa | May 6, 2009

Dua Elang dan Seekor Katak

Dua Elang dan Seekor Katak

Ada tiga binatang sahabat karib, yaitu dua ekor elang yang besar perkasa
dan seekor katak mungil. Sesungguhnya seekor katak merupakan santapan lezat
sang elang. Namun bukan mustahil sesuatu yang luar
biasa bias terjadi. Dan itu mungkin yang
disebut sebagai keajaiban. Ketika sang rajawali hinggap dipinggir sebuah
kubangan, mereka menemukan seekor katak, walau kecil namun menarik dan mampu
meluluhlantakan ketamakan hati kedua elang itu. Perlahan mereka bersahabat, ada
kasih, ada cinta, ada sayang yang terjalin di antara mereka.

Perlahan musimpun kini beralih. Belahan bumi bagian utara tempat di mana ketiga
sekawan itu hidup kini perlahan dingin. Dan di awal musim dingin kawanan burung
akan hijrah, terbang jauh ke belahan selatan yang lebih hangat. Kedua elangpun
akan melakukan perjalanan yang sama, meninggalkan arus dingin yang bakal tiba
dalam beberapa hari.

Sebuah perpisahan adalah saat yang sedih. Ada
kesedihan bercokol dalam di dasar sanubari. Ada ratap tangis, ada air mata, ada
kepedihan. Mereka tak meratapi perpisahan ini, tetapi menangisi saat pertemuan
dulu. Mengapa hal itu terjadi? Mengapa mereka dulu pernah bertemu dan saling
menjalin cinta? Namun menangisi masa silam sama halnya dengan kehampaan. Mereka
harus melihat kenyataan saat kini.

“Seandainya engkau bisa terbang tinggi di angkasa raya…” demikian
sang elang berkata-kata, “maka kita tak akan harus berpisah!” Sang
katak yang kerdil kini berpikir keras mencari jalan, dan akhirnya muncul dengan
sebuah gagasan gemilang. Ia membawa sebuah tongkat. Dengan paruhnya
masing-masing kedua elang itu memegang kedua ujung tongkat, dan sang katak
dengan mulutnya memegang erat di bagian tengah tongkat itu. Maka terjadilah.. .
Ketiga binatang itu bersama-sama terbang riang di angkasa biru.

Semua binatang lain mengangkat wajah melihat keajaiban di atas sana . “Oh…Betapa hebatnya. Katakpun
bisa terbang tinggi. Seandainya aku bisa terbang di langit biru.” Demikian
mereka berdecak kagum. Mendengar decakan kagum itu sang katak menjadi sangat
bangga. Dalam hatinya ia tak henti-hentinya berkata pada dirinya sendiri,
“Kalau bukan karena kepintaranku maka keajaiban ini tak akan pernah
terjadi.”

Tak lama berselang sebuah suara teriakan nyaring terdengar di telinga sang
katak; “Wah…! Siapakah yang sedemikian pintarnya menemukan cara gemilang
ini sehingga sang katakpun bisa terbang tinggi?” Sang katak kini tak mampu
menahan diri. Ia ingin agar semua orang tahu bahwa hal ajaib ini terjadi karena
kehebatannya. Karena itu dengan sekuat tenaganya sang katak membuka mulut dan
berteriak; “Ini adalah hasil pikiran sa…” Sayang…seribu sayang!
Sebelum ia mampu menyelesaikan kata-katanya, ia telah terjerembab jatuh,
badannya menghantam wadas keras, dan seketika itu juga menjadi seonggok sampah
tak bermakna. Wah….kalau seandainya sang katak tak berkoar mewartakan
kebesaran dirinya sendiri, maka mereka akan bersama-sama tiba di dunia baru,
dunia yang penuh kehangatan.

Sebab barangsiapa meninggikan diri, ia
akan direndahkan, dan barangsiapa merendahkan diri, ia akan ditinggikan.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: