Posted by: cahyopa | August 8, 2008

Seni Kepimpinan

Seni Kepimpinan

Seni kepemimpinan telah banyak diajarkan orang dari masa ke masa,
mulai dari rangkaian Mitologi Yunani yang amat terkenal, Tao dan Sun
Tzu dari Cina, Nasihat Bagi Penguasanya Al Ghazali, Sang Penguasanya
Niccolo Machiavelli, Hasta Brata Raja Kapa-Kapa Wulangreh Wedhatama
dari Jawa, sampai ratusan mungkin ribuan buku-buku teks kepemimpinan
abad 20 seperti The Art of The Leader-nya William A. Cohen, dan The
Charismatic Leader-nya Jay A. Conger dan sebagainya.

Dengan apa kekuasaan dapat dipertahankan? Al Ghazali mengawali
nasihatnya dengan mengemukakan 2 hal, yaitu jangan pernah melakukan
sesuatu tanpa perhitungan dan selalu konsisten serta tak pernah
meralat. Yang terakhir ini, juga merupakan benang merah yang kuat
dalam seni kepemimpinan raja-raja Jawa. Agar berwibawa, maka seorang
raja harus memiliki, Sabda Pandhita Ratu, tan kena wolak-walik,
artinya, raja harus memegang teguh satu kata dan perbuatan.

Ucapannya bagaikan ucapan seorang pendeta sakti nan manjur yang
segera menjadi kenyataan. Ludahnya ludah api yang sekali dilontarkan
langsung mewujudkan keinginannya. Ucapannya konsisten dan tidak
mencla-mencle. Tidak pagi tempe, sore mentah kembali menjadi kedelai.
Ini juga sekaligus mengajarkan bahwa seorang pemimpin tidak boleh
berkata atau bertindak ngawur, karena dampaknya sangat luas bagi
rakyat banyak yang tak berdosa.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: