Posted by: cahyopa | August 7, 2008

Bermain, Belajar, Bekerja dan Bercinta sekaligus

Salam Damai,

Seminggu terakhir 2006, saya mendapat suguhan bergizi dari sebuah tv swasta yaitu tayangan film-film yang imajinatif mulai dari lord of the ring (3 buah), harry potter (2 buah) dan terakhir, peter pan. Dalam peter pan, ada sebuah percakapan menarik antara wendy dan ibunya. Sang ibu menyatakan kepada wendy bahwa sang ayah adalah sosok pemberani. Pernyataan yang membuat ketiga anaknya termasuk wendy mengeryitkan dahi. Sang ibu menjelaskan bahwa sang ayah adalah orang yang banyak berbuat untuk orang lain terutama keluarganya, dan mengabaikan dirinya sendiri termasuk mengabaikan mimpinya. Impian sang ayah disimpan dalam lemari di kamar, dan dikeluarkan setiap malam untuk mengagumi keindahan impian itu.

Bayangkan bagaimana hidup sebagai orang yang diharuskan menyelesaikan beban masa lalu dan kebutuhan masa kini, tanpa suatu harapan masa depan! Bayangkan bagaimana kita dikejar-kejar bon-bon tagihan, tanpa tahu untuk apa tagihan itu kita bayarkan! Bagaimana keringnya kehidupan tanpa mimpi? Ya, kecuali bagi orang-orang yang memimpikan kehidupan itu kering! Sungguh saya sendiri tidak akan pernah memilih hidup tanpa impian.

Sayang, kebiasaan kita untuk membagi ruang kehidupan secara tegas. Ada masa anak-anak. Ada masa remaja. Ada masa dewasa. Ada masa tua. Dan di setiap masa kita mempunyai tugas perkembangan yang harus diselesaikan. Bermain dan berimajinasi bagi anak-anak. Belajar bagi remaja. Bekerja bagi orang dewasa. Menjadi orang tua bagi orang tua. Menjadi aneh dalam pandangan banyak orang ketika kita telah dewasa dan bermain-main. “Seperti anak kecil saja,” celetuk seseorang di pojokan sana. “Gak pantes”, kata yang lain. Padahal, bemain-main dan berimajinasi kan sesuatu yang menyenangkan. Dan herannya, keyakinan umum ini dibenarkan oleh teori-teori psikologi perkembangan yang diajarkan di semua kampus saat ini.

Hasil pelacakan ivan illich (tokoh pendidikan), pembagian masa kehidupan tersebut diciptakan oleh orang-orang modern, agar mudah mengelola kehidupan. Tentu memang lebih mudah, lihat saja bagaimana sekolah dirancang sesuai dengan masa-masa tersebut. Dimana pada setiap level mencerminkan masa kehidupan tertentu. Masa bermain diakomodasi di playgroup dan tk. Masa belajar diperkenalkan di sd – smu. Persiapan kerja di akomodasi di perguruan tinggi. Kehidupan menjadi sesuatu yang linear, garis lurus yang ditarik oleh tangan antah berantah.

Apa indahnya sebuah garis lurus? “Pasti ada keindahan dibalik segala sesuatunya, ujar sang bijak. Mungkin benar. Tetapi, apakah kita harus menikmati keindahan hanya dari sebuah garis lurus? Apakah kita tidak bisa menciptakan garis zig-zag sendiri? Atau garis benang ruwet?

Wah sudah ngomong apa saja sih….? Kita kembali ke peter pan. Film ini adalah sebuah dialog antara sosok dewasa dan sosok anak. Tentang memilih menjadi anak-anak atau memilih menjadi dewasa. Sangat jelas pada prolog, “Semua anak akan tumbuh dewasa, kecuali satu orang”. Yaitu peter pan, tokoh utama film ini. Pesannya kemudian adalah semua orang harus tumbuh dewasa, karena hanya impian semu untuk tetap menjadi anak kecil. “Ayo anak-anak tumbuh dewasalah kalian!”, seru para orang tua.

Saya tiba-tiba pusing dihadapkan dua pilihan yang saling meniadakan ini, menjadi anak kecil atau dewasa? Selama ini pula saya meyakini bahwa saya dan yang lainnya hanya mempunyai dua pilihan ini. Saya merasa dituntut untuk menentukan sebuah pilihan dari kedua pilihan tersebut (decision making). Sampai ketika saya nonton peter pan untuk kedua kalinya, ketika saya merefleksikan film itu sambil mendengarkan khutbah Idul Idha, saya menemukan kesadaran bahwa saya bisa menciptakan pilihan sendiri (creating choice).

Setiap masa kehidupan mempunyai tugas perkembangannya sendiri. Anak kecil tugasnya adalah bermain dan berimajinasi. Pertanyaannya kemudian, untuk apa saya mengerjakan tugas tersebut? Apakah hanya agar diakui telah lulus sebagai anak-anak? Saya pikir lebih dari itu. Kita harus mengerjakan tugas perkembangan itu agar mampu bermain dan berimajinasi. Suatu kemampuan yang akan menjadi bekal dalam masa kehidupan selanjutnya. Ketika beranjak remaja, dewasa dan menjadi tua sekalipun, kita bisa dan bahkan harus bermain dan berimajinasi.

Bukankah kehidupan lebih menarik ketika kita bisa bermain, belajar, bekerja dan bercinta sekaligus? Ketika kita mengerjakan sebuah tugas, pada saat itulah kita bermain, belajar, bekerja dan bercinta. Bermain agar bisa mendapatkan celoteh riang anak kecil. Belajar agar mendapatkan pemahaman yang segar remaja. Bekerja agar bisa menghasilkan suatu karya dewasa yang menghidupi kehidupan. Bercinta agar bisa menemukan makna kehidupan ini sebenarnya.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: